Beranda

Tari Jaipong: Sejarah, Gerak Dasar, dan Musik Pengiring Tari Khas Jawa Barat

Yogi Mardilah ·

Diperbarui Oktober 2026. Tulisan 2013 ini saya rapikan susunannya, saya perbaiki ejaannya, dan saya lengkapi dengan bagian-bagian gerak dasar.

Jaipongan adalah tari pergaulan khas Jawa Barat yang lahir di Bandung pada akhir 1970-an. Gerakannya dinamis dan diiringi tepak kendang yang menghentak. Sekarang jaipongan menjadi salah satu identitas kesenian Sunda dan sering tampil di acara resmi, penyambutan tamu, sampai pertunjukan kolosal.

Sejarah singkat

Jaipongan diciptakan oleh seniman Bandung Gugum Gumbira. Ia mengolah unsur-unsur kesenian rakyat yang sudah ada, terutama ketuk tilu, kliningan/bajidoran, dan gerak pencak silat, menjadi tarian baru yang lebih segar.

Nama "jaipong" dipercaya berasal dari masyarakat Karawang, yang menirukan bunyi tepak kendang pengiring tari rakyat (onomatope). Bunyi kendang itu dikenal dalam kesenian bajidoran di Subang dan Karawang, lalu istilah jaipongan menjadi populer.

Karya awal Gugum Gumbira yang terkenal antara lain Daun Pulus Keser Bojong dan Rendeng Bojong. Karya-karya berikutnya antara lain Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Kawung Anten. Beberapa penari jaipongan yang dikenal pada masanya adalah Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Mimin Mintarsih, Mira Tejaningrum, Ine Diar, dan Asep Safaat.

Struktur gerak dasar

Secara umum, tarian jaipongan tersusun dari beberapa bagian:

  • Bukaan — gerak pembuka, biasanya penari berjalan sambil memainkan selendang.
  • Pencugan — rangkaian gerak inti yang sudah jadi (pola tetap).
  • Nibakeun — aksen gerak yang jatuh tepat pada tepak kendang tertentu.
  • Mincid — gerak perpindahan atau penghubung antarbagian.

Bentuk penyajian

  • Tunggal, baik penari laki-laki maupun perempuan
  • Berpasangan, laki-laki dan perempuan
  • Rampak (berkelompok), sejenis maupun berpasangan
  • Kolosal, untuk acara besar di lapangan terbuka

Musik pengiring (karawitan)

Ada dua bentuk iringan:

Karawitan sederhana (gaya ketuk tilu)Karawitan lengkap (gamelan salendro)
kendang, ketuk, rebab, goong, kecrek, sindenkendang, saron I dan II, bonang, rincik, demung, rebab, kecrek, goong, sinden, juru alok

Kendang memegang peran paling penting karena memimpin dan memberi aba-aba setiap perubahan gerak.

Busana

Busana jaipongan kreasi baru biasanya lebih meriah dibanding busana ketuk tilu, tetapi tetap berpola tradisional: kebaya atau apok, sinjang (kain) atau celana panjang, dan selendang yang dipakai sebagai bagian dari gerak. Ornamennya dibuat megah, namun potongannya tetap memberi ruang gerak yang leluasa.

Perkembangan

Pengaruh jaipongan menyebar ke luar Jawa Barat: ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, sampai Sumatra, dan dikembangkan oleh seniman setempat. Jaipongan juga sering ditampilkan di hotel berbintang dan acara kenegaraan untuk menyambut tamu dari mancanegara. Di sekolah-sekolah Jawa Barat, jaipongan masih menjadi materi seni budaya yang populer.

Baca juga: Kumpulan Paribasa Sunda (B, C, D) beserta hartina.